Bahaya Otak Buaya dan Efek Mandela

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus gan

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas

kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses penca

A

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus ganas yang merusak nalar dan membakar emosi publik. 

Di 2019, tidak sekedar itu saja, para Machiavellian memainkan propaganda tersebut dengan tujuan menumbuhkembangkan ketidakpercayaan politik publik (public’s political trust) terhadap proses penyelenggaraan pemilu dan juga menciptakan polarisasi politik yang sangat tajam. Jadi propaganda tersebut sebenarnya tidak sekedar menjadi sebuah ancaman potensial yang nyata bagi demokrasi elektoral itu sendiri, tetapi juga bagi keutuhan bangsa dan negara di masa lalu, saat ini, dan mendatang.

Prinsip hukum propaganda Joseph Goebbel telah menjadi prinsip operasional dimana kebohongan besar (big lie) yang terus diulang, nanti akan menjadi kebenaran. Atau menurut para psikolog, yang mengenalkannya sebagai efek “ilusi kebenaran” (Wardle, 2017). Hoaks dan berita palsu yang terus diulang akan diterima oleh publik sebagai kebenaran politik. Tentunya, ini sangat berbahaya untuk peradaban politik demokrasi.

Otak Buaya dan Efek Mandela

Siapapun yang tidak memiliki kecerdasan informasi atau mengalami iliterasi informasi (information illiteracy) dapat menjadi korban efek propaganda, termasuk kepada anggota keluarga kita. Oleh karena itu, literasi informasi bisa menjadi perisai (shield) untuk memproteksi kita dan orang-orang-orang disekeliling dari serangan hoaks dan berita palsu yang dilancar melalui internet atau media sosial. Jadi, keluarga memiliki posisi strategis dalam proses edukasi literasi informasi.

Orang yang tidak memiliki kecerdasan informasi biasanya hanya menggunakan otak buaya (croc brain) atau otak reptil saja dalam merespon informasi apapun. Mereka tidak dapat berpikir rasional, karena mereka digerakkan oleh rasa takut, situasi mengancam, atau persepsi atas bahaya. Sebaliknya, informasi yang tidak mengaktivasi rasa cemas, dianggap sebagai sampah (spam) yang harus diabaikan (Klaff, 2011:11-12). Hoaks dan berita palsu hanya menciptakan pengguna internet paranoid.

Penggunaan otak buaya yang dominan membuat mereka tidak bisa memfungsikan dengan baik otak limbik yang salah satu fungsinya adalah sebagai pengendali emosi dan otak neokorteks yang memiliki salah satu fungsinya adalah untuk berpikir. Otak buaya mengabrasi kecerdasan berpikir dan emosional seseorang. Itu lah kenapa hoaks dan berita palsu merusak potensi kognitif manusia yang sangat besar.

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas.

Mengembangkan Kuriositas Pemilih

Di Pemilihan Serentak 2020, efek Mandela dapat menjadi ancaman aktual bagi populasi pemilih yang (telah) terinformasikan dengan baik (well-informed voters). Artinya efek ini memiliki daya rusak terhadap demokrasi elektoral. Untuk melindungi pemilih dari efek tersebut, gerakan cerdas berinternet dibutuhkan.

Gerakan yang mengampanyekan tentang pentingnya literasi informasi kepada pemilih dengan tujuan agar mereka memiliki kuriositas yang tinggi atas setiap pesan yang diragukan kebenarannya atau bersifat manipulatif. Kuriositas tersebut ditandai dengan tingginya semangat pencarian atau penemuan fakta (fact finding). Kini di era Big Data, mesin pencari (searching engine) seperti Google, Bing, Yahoo, Baidu dan lain sebagainya sangat membantu pengguna internet untuk menemuka fakta aktual sebagai sumber otentik informasi.

Kuriositas merupakan mekanisme penting bagi pemilih untuk mendaulatkan pilihan politiknya (empowering their vote). Kuriositas bisa terbentuk dengan baik ketika pemilih dapat memahami eksistensi politiknya dimana mereka adalah pemilik kedaulatan rakyat dalam demokrasi dan melalui pemberian suara, mereka dapat menentukan masa depan pemerintahan daerah untuk periode selanjutnya. Kesadaran kewarganegaraan (civic consciousness) inilah yang harus dikembangkan dan menjadi pondasi bagi pembentukan individu pemilih dengan rasionalitas yang baik. (*)

Diberbagai negara didunia, efek propaganda “semburan kebohongan” (“firehose of falsehood” propaganda) telah terbukti merusak demokrasi dan pemilu. Lalu bagaimana dengan Pemilu Serentak 2019 lalu? Disaat hoaks dan berita palsu telah menjadi wabah politik bagi bangsa Indonesia. Apalagi propaganda tersebut diperkuat dengan penggunaan teknik komputasional yang menjadikannya hoaks dan berita palsu terdiseminasi dengan volume sangat besar (huge volume) dan mutikanal (multichannel).

Mungkinkah praktek propaganda tersebut terulang kembali di Pemilihan Serentak 2020 nanti? Sejumlah pertanyaan penting bagi siapapun yang menginginkan demokrasi elektoral lebih baik.

Probabilitasnya siklus politik itu berulang kembali cukup besar, dimana hoaks dan berita palsu berpotensi marak kembali. Ini harus menjadi alarm politik bagi kita semua untuk menyusun aksi prenventif, mengingat hoaks dan berita palsu seperti virus gan

Informasi sensasional atau bombastis selalu menarik bagi mereka dan membuat mereka terjebak pada clickbait (umpan klik) yang kemudian mereka melakukan click-through (klik-tayang) atau mengakses konten tersebut dan tidak hanya sampai di situ saja, mereka juga terdorong untuk meneruskannya secara masif pada yang lainnya melalui jaringan media sosial multi-platform. Pada akhirnya mereka terjebak devil circle (lingkaran setan) diseminasi hoaks dan berita palsu.

Clickbait terjadi pada saat pengguna internet mengalami curiosity gap (kesenjangan rasa ingin tahu) (Waldman, 2014), karena mereka telah kehilangan daya kritis dan mudah terjebak pada emosionalitas informasi berbasiskan-sensasionalitas. Oleh karena itu, sependapat dengan gagasan Emily Shire (2014) tentang pentingnya gerakan anti-umpan klik (the anti-clickbait movement) untuk menyelamatkan kita semua untuk terbebas dari hoaks dan berita palsu.

Pada akhirnya, otak buaya membuat pengguna internet menjadi orang sangat yang rentan (the most vulnerable people) mudah terdampak Mandela effect –orang dengan mudah sekali mempercayai suatu informasi tanpa verifikasi.  Efek mandela adalah bentuk kesalahpahaman kolektif (collective misremembering) atas suatu peristiwa umum.  

Pada tahun 2010, Fiona Broome menciptakan istilah efek Mandela ketika banyak orang di internet salah mengenang wafatnya Nelson Mandela. Mereka percaya bahwa Mandela wafat di penjara pada tahun 1980-an, padahal faktanya, Mandela baru bebas dari penjara tahun 1990-an dan meninggal pada tahun 2013. Disinformasi di internet telah menciptakan kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses pencarian informasi tanpa batas

kesalahpahaman kolektif. Fakta sosial mudah percaya pada disinformasi adalah salah satu bentuk paradoks internet, yang seharusnya berinternet itu berarti memiliki akses penca

A


menu
menu